Part
One
H
|
ongkong, 3 Maret 2010. Dua orang siswa
yang baru lulus sekolah kepolisian Hongkong sedang berjalan pulang menuju
rumah. Dua orang itu bernama Quan Tao dan Quan Yao.
Mereka berdua adalah saudara kembar. Quan Tao sebagai kakak dan Quan Yao sebagai adik.
Mereka berdua adalah saudara kembar. Quan Tao sebagai kakak dan Quan Yao sebagai adik.
“Quan
Yao! Besok pagi kita harus pergi ke kantor pusat kepolisian Hongkong.!” Ujar
Quan Tao. “Untuk apa?” tanya Quan Yao sambil mengeluarkan sebatang lolipop bari
mulutnya. “kau lupa! kita akan mendapat tugas pertama dari komandan Maa Yong
Chen.” Jawab Quan Tao.
“Benarkah!?
Oh iya.. berarti kita hebat! Baru lulus dari sekolah kepolisian langsung
mendapatkan tugas!” sahut Quan Yao polos. “Ck..ck..ck..” Quan Tao menggelengkan
kepalanya.
"Kenapa
kita tidak naik kereta saja?” ujar Quan Yao memberi saran.”Hmm.. benar juga
kau! Ayo cepat!” Sahut Quan Tao.
***
“Han kau mendapat tugas penting!”
ucap komandan kepolisian pada Han.”Siap pak!” Jawab Han mematuhi perintah.
“Han! Han Mei Hwa! Lekas kerjakan soal metematika di depan!” seru guru
matematika “Han Mei Hwa jangan tidur di kelas!” teriak guru matematika sambil
memukul-mukulkan sebuah penggaris ke atas meja Han. “Siap pak!” seru Han terkaget sambil hormat pada pak
guru. Teman-temannya di kelas menertawainya. “Sebagai hukumannya, berdiri di
lorong kelas sampai waktu makan siang tiba!” perintah pak guru. “Yahh.. pak..”
keluh Han. “sudah cepat sana!” seru pak guru dengan keras. “I..iya pak! Iya
pak!” ujar han sambil berlari kecil menuju lorong kelas.
“Sial! Untung 10 menit
lagi!” kesal han. “Baguslah. Aku juga sudah bosan mendengar ocehannya.” Tambah
Han. Han menunggu di lorong kelas sambil memainkan game yang ada di
handphonenya. Tak lama bel makan siang pun berbunyi. “Huft.. baguslah. Waktunya
makan siang.” Ujar Han. Seuruh murid berhamburan keluar kelas.
***
Pulang
sekolah
“Han tadi kenapa kau
tidur di kelas?” tanya Tian.
“Habisnya tadi aku
mengantuk.” Jawab Han.
“Mimpi apa kau tadi?”
tanya Fa.
“Hehe.. mimpi diberi
tugas oleh komandan polisi.” jawab Han.
“Pantas tadi kau
hormat. Sudah seperti orang bodoh saja.” sela Lin
“Enak saja kau ini!”
kesal Han.
“Maaf. Kan hanya
bercanda.” Sesal Lin terpaksa.
“Huhh.. dasar kau!!”
ucap Han
Sesampainya
di stasiun kereta
“Han
laporan tugas fisika ada pada mu kan?” tanya Fa. “Iya.. tenang saja fa. Nih ada
di dalam tasku!” jawab han sambil menunjukkan tas yang ada di punggungnya. “Bagus..
bagus.. besok jangan lupa kau bawa. Kau tahu kan? Guru fisika kita seperti apa?”
ujar Lin mengingatkan.
“Iyaa..
tenang saja aku kan tidak pelupa seperti kau” sahut Han meledek. “Hhh... kau
ini bisanya membicarakan keburukan orang saja.” Kesal Lin. “Memang kau seperti
itu kan!?” sahut Han “Sudahlah, kalian berdua ini bisanya bertengkar saja.”
Sela Fa. “Hei, keretanya sudah tiba tuh.” seru Tian. “Ayo naik!” ajak Han pada
yang lain.
***
“Surat-surat penting
tadi ada padamu kan?” tanya Quan Yao. “ada di dalam tasku.” respon Quan Tao
singkat. “Besok jangan lupa kau bawa. Itu semua adalah surat-surat penting.”
Tambah Quan Yao. “iya cerewet!” kesal Quan Tao. “Dari tadi kau hanya makan
permen saja!” tambah Quan Tao. “Memangnya kanapa? Kau mau? Aku masih punya
lagi.” Sahut Quan Yao. “Hhh... kau ini saudara kembar yang paling aneh yang
pernah ku dapatkan!” jengkel Quan Tao.
Han,
Lin, Fa, dan Tian masuk kedalam kereta dan duduk di samping Quan Tao dan Quan
Yao. Han menaruh tas di samping kirinya. Tak lama kereta pun berjalan.
15 menit berlalu, sampailah kereta
itu di stasiun Qigu. Quan tao dan Quan Yao pun turun dari kereta. “Tunggu!”
seru Quan Tao mengambil tas yang tadi berada di samping kanannya. “Ayolah. cepat
sedikit.” Seru Quan Yao. Mereka pun keluar dari kereta. Dan kereta pun berjalan
kembali.
Mereka berdua kembar kan? Sikapnya berbeda
sekali!” ujar Han. “Tasmu juga sama dengan mereka Han!” tambah Lin menyamakan.
“Kan hanya tasku saja, bukan wajahku yang sama. Lagipula tas seperti ini banyak
di toko tas. Tas sepertimu juga pasaran!” jawab Han. “Iya, iya.. aku tahu.”
Sahut Lin. “Kita sudah sampai tuh!” sela Tian. Mereka berempat pun turun di
stasiun Taizong. Dari stasiun, mereka berjalan menuju rumah masing-masing.
***
“Huh..
tas ini berat sekali! Gantian kau yang membawanya!” keluh Quan Tao. “ Payah kau
ini! Tas seperti ini saja kau tak mampu untuk membawanya.” Ledek Quan Yao.
“Bukannya tidak mampu, tapi rasanya tas ini bertambah berat.” Bela Quan Tao. “Wuuaahh..
benar juga kau! Mungkin ini karena kita sudah lelah. Sehingga tas ini terasa
berat.” Jelas Quan Yao. “ Alasan yang masuk akal.” Jawab Quan Tao. Tak lama
mereka berdua sampai di rumah. “Aku pulang!” seru Quan Yao ketika membuka
pintu. “Dasar bodoh! Di rumah ini kita hanya tinggal berdua. Kau mengucapkan ‘aku
pulang’ untuk siapa!?” sahut Quan Tao. “Ngg.. untuk satu kotak penuh permen
lolipopku!” seru Quan Yao. Quan Tao hanya melirik ke arah Quan Yao.
“Kemarikan tasnya! Aku
ingin mengambil handphoneku!” seru Quan Tao sambil mengambil sekaleng soft
drink dari dalam lemari es. “Tuh, di atas meja! Ambilah sendiri.” Jawab Quan
Yao menuangkan jus jeruk ke dalam gelasnya. “Hahh.. kau ini! Aku kan minta
tolong padamu!” jengkel Quan Tao lalu mengambil tas itu kemudian memangkunya.
“Hahh.. GAWAT!!” seru
Quan Tao ketika membuka tas tersebut. “Ada apa? Kau hampir saja membuatku
tersedak! Memangnya ada apa? Handphonemu hilang? Kalau hilang kan tinggal kau
cari. Kalau tidak ketemu, ya kau beli lagi saja.” Sahut Quan Yao sambil kemabli
meminum jus jeruknya. “Bukan handphoneku saja yang hilang! Tapi semuanya
hilang!!” seru Quan Tao panik.
“Buurr..”
Quan Yao menyemburkan jus jeruk yang ada di dalam mulutnya. “Apa yang kau
katakan?!” ujar Quan Yao sambil mengelap mulutnya. “Kemarilah!!” seru Quan Tao.
Quan Yao pun barlari melompati sofa dan duduk di samping Quan Tao kemudian
memastikan apakah tas itu tertukar atau tidak?. “Lalu bagaimana?” bingung Quan
Yao. “ Aku pun tak tahu.” Jawab Quan Tao lemas. “Kau inagt anak perempuan yag
tadi sutu kereta dengan kita? Tasnya mirip dengan tas milik kita.” Ingat Quan
Tao “Dasar bodoh! Mengapa kau tukar tas kita?” kesal Quan Yao. “Aku tidak
menukarnya!” bela Quan Tao. “apa kata komandan besok?!” keluh Quan Yao. “Hhh..
aku pun tak tahu.”
***
“Aku
pulang!!” seru Han ketika masuk ke rumah. Han langsung menuju kamarnya yang
berada di lantai dua. “Tadi aku taruh dimana ya permen karetku? Sepertinya di
dalam tas.”ujar Han sendirian. Saat ia membuka tasnya, ia kaket karena tas itu
bukan tas miliknya. “GAWAT...!?” kaget Han.
“Sial.. semua tugas
fisika, handphoneku, permen karet, dan topi kesayanganku ada di sana semua!”
ujarnya secepat kilat. “Handphoneku lowbatt lagi! Aduh kacau!!” Han bertambah
panik. “Oke Han! Tenang, tenangkan dirimu.. santai, rileks.” Ucap Han
menenangkan diri. “Arrghh... tidak bisa!! Aku takkan bisa tenang kalau begini
caranya!!” bantah Han pada dirinya sendiri. Ia pun berlari keluar kamar menuju
meja telepon. Ia menelepon Lin dan memberi tahu bahwa tasnya telah tertukar.
Dasar sial, Lin tidak percaya pada apa yang dikatakan Han padanya.”Ayolah Lin,
kumohon kau percaya! Tasku benar-benar tak ada padaku saat ini.” Pinta Han supaya Lin
mempercayainya. “Baiklah, aku percaya padamu. Tapi, besok jangan luapa” kau
bawa tugasnya.” Jawab Lin. “Dasar bodoh! Itu sama saja kau tak mempercayaiku!
Hahh.. sudahlah! Percuma berbicara padamu!!” Han langsung menutup telepon lalu
kembali kekamarnya.
Esok paginya, Han
bangun dengan raut wajah yang lemas, seperti tak bertenaga. “Bagaimana ini?”
desah Han setelah selesai sarapan. “Han kenapa kau membawa dua tas hari ini?”
tanya Ibu bingung. “Eh.. ng..ng.. tas yang ku gendong untuk pelajaranku hari
ini, dan tas yang satunya lagi untuk tugas kelompokku dengan Lin, Fa, dan
Tian.” jelas Han pada Ibunya. “Ohh.. perlu ibu antar Han?” tanya Ibunya. “Tidak
perlu Bu! Terima kasih! Aku berangkat dulu!” elak Han. “Hati-hati di jalan.”
Sahut Ibunya. Han pun bergegas menuju sekolah.
Sesampainya di sekolah, Han hanya duduk diam
di bangkunya. Tak seperti biasanya ia hanya duduk saja. Lin yang baru datang
langsung menghampirinya. “Hei, mengapa kau membawa dua tas hari ini Han?” Tanya
Lin kebingungan. “Aku sudah mengatakannya kan padamu. Dan kau tak percaya.”
ucap Han seperti Tak berniat mengatakannya. “Hahh..!? jadi tas mu benar-benar
Tertukar dengan tas orang? Lalu bagaimana? Kau tahu kan, guru fisika kita
seperti apa? Ayolah kau cari solusinya! Seingatku kau meninggalkan handphonemu
didalam tasmu kan? Bagaimana kalau kau menghubungi handphonemu itu, supaya kita
tahu dimana tasmu berada? Ini gawat! Gawat besar! Oh.. sial! Kita sial! Kaenapa
kau begitu ceroboh seperti ini Han? Han.. carilah solusinya!” Lin berbicara
panjang lebar dan sangat cepat. Han hanya menutupi telinganya sambil mengikuti
gerakan mulut Lin yang berbicara tanpa henti.
“Lin!
Berhentilah berbicara! Aku pusing mendengarkan ocehanmu!” gertak Han
mengagetkan Lin. “waa..!!” kaget Lin sesaat. Fa danTian terdiam melihat tingkah
kedua temannya itu. “Hanphoneku mati, baterainya habis. Jadi percuma saja.”
Ucap Han. “Ohh.. kita benar-benar sial hari ini!” ucap Lin memelas.
“jangan-jangan, tasku tertukar dengan dua rang kembar kemarin di kereta.” Ingat
Han. “mungkin begitu Han.” sahut Tian “Taapi, meraka kan keluar lebih dulu dari
pada kita Han.” Jelas Fa. “Berarti, meraka yang salah mengmbil tas.” respon
Han. “Bagaimana kalau pulang sekolah nanti kita mencarinya?” usul Tian. “Ide bagus!”
jawab Han.
***
“Hei,
Quan Tao! Apa kau punya ide?” tanya Quan Yao sambil memasuki mobil. “Tidak.”
Jawab Quan Tao sambil menggelengkan kepalanya. “Bagaimana kalau kita kabur
saja?” ujar Quan Yao. “Tidak bisa! Itu namanya kita tidak bertanggung jawab.”
Sahut Quan Tao.
“mengapa kita di beri
kaset rekaman itu!? Dasar komandan aneh.” tambah Quan Tao. “Kaset apa? Kau tak
pernah memberi tahukannya padaku.” Tanya Quan Yao. “Kaset rekaman transaksi
pembelian heroin.” Jawab Quan Tao. “menagpa aku tak tahu?” bingung Quan Yao. “
kau saja yang tak pernah mendengarkan jika di beri tugas.” Jawab Quan Tao
“Sudahlah! Cepat jalan!” tambah Quan Tao. Mereka pun berangkat menuju kantor
pusat kepolisian Hongkong.
“Bisakah
kau berjalan lebih cepat lagi?!” jengkel Quan Tao. “Kalau begitu, kau saja yang
menyetir mobil ini!” sahut Quan Yao. “Iya, kita bukan sampai di kantor polisi.
Melainkan ke pemakaman.” Jawab Quan Tao. “Ya sudah, kalau begitu diam saja
kau.” Balas Quan Yao.
Beberapa
menit kemudian, sampailah mereka di kantor pusat kepolisian. Dengan perasaan
takut, mereka mencoba untuk memberanikan diri masuk ke dalam ruangan pak
komandan Maa Yong Chen.
“Kalian ini bagaimana? Kaset itu
merupakan satu-satunya bukti untuk menangkap bandar heroin itu!!” bentak
komandan Maa pada dua polisi muda itu. “Maafkan kami pak.” Ucap Quan Tao
menyesal. “Hhh..” desah komandan Maa. Kemudian ia mengangkat gagang telepon dan
menekan tombolnya. “Polisi Chen, segera Keruangan saya! Ada tugas penting
untukmu!”
Tak
lama, masuklah polisi Chen ke ruangan komandan Maa. “Siap pak! Apa bapak
memanggil saya?”ucap Chen sigap sambil memberi hormat. “Kau bantu mereka berdua
mencari tas berisi kaset rekaman transaksi pembelian heroin dari bandar heroin
buronan kita itu! Dan ingat jangan kembali sebelum berhasil menemukannya.”
perintah komandan Maa. Mereka pun keluar dari ruangan komandan Maa dan bergegas
mencari tas tersebut.
“Hei, apa yang harus ku cari? Aku pun tak mengetahui
bentuk dan warna tas itu.” Ucap Chen. “Tasnya seperti ini” jawab Quan Yao
menunnjukkan tas yang ia pegang . “Hmm.. baiklah. Sebaiknya kita bergegas
mencarinya.” Ucap Chen. Quan Tao dan Quan Yao menganggukkan kepalanya. Chen
menaiki motornya, sementara Quan Tao dan quan Yao mengendarai mobil. “Kita
berpencar!” seru Chen. Mereka pun mulai mencari tas tersebut.
No comments:
Post a Comment