Saturday, December 10, 2011

Little Police Part I


Part One

H
ongkong, 3 Maret 2010. Dua orang siswa yang baru lulus sekolah kepolisian Hongkong sedang berjalan pulang menuju rumah. Dua orang itu bernama Quan Tao dan Quan Yao.
Mereka berdua adalah saudara kembar. Quan Tao sebagai kakak dan Quan Yao sebagai adik.
            “Quan Yao! Besok pagi kita harus pergi ke kantor pusat kepolisian Hongkong.!” Ujar Quan Tao. “Untuk apa?” tanya Quan Yao sambil mengeluarkan sebatang lolipop bari mulutnya. “kau lupa! kita akan mendapat tugas pertama dari komandan Maa Yong Chen.” Jawab Quan Tao.
            “Benarkah!? Oh iya.. berarti kita hebat! Baru lulus dari sekolah kepolisian langsung mendapatkan tugas!” sahut Quan Yao polos. “Ck..ck..ck..” Quan Tao menggelengkan kepalanya.
            "Kenapa kita tidak naik kereta saja?” ujar Quan Yao memberi saran.”Hmm.. benar juga kau! Ayo cepat!” Sahut Quan Tao.

***

“Han kau mendapat tugas penting!” ucap komandan kepolisian pada Han.”Siap pak!” Jawab Han mematuhi perintah. “Han! Han Mei Hwa! Lekas kerjakan soal metematika di depan!” seru guru matematika “Han Mei Hwa jangan tidur di kelas!” teriak guru matematika sambil memukul-mukulkan sebuah penggaris ke atas meja Han. “Siap pak!”  seru Han terkaget sambil hormat pada pak guru. Teman-temannya di kelas menertawainya. “Sebagai hukumannya, berdiri di lorong kelas sampai waktu makan siang tiba!” perintah pak guru. “Yahh.. pak..” keluh Han. “sudah cepat sana!” seru pak guru dengan keras. “I..iya pak! Iya pak!” ujar han sambil berlari kecil menuju lorong kelas.
“Sial! Untung 10 menit lagi!” kesal han. “Baguslah. Aku juga sudah bosan mendengar ocehannya.” Tambah Han. Han menunggu di lorong kelas sambil memainkan game yang ada di handphonenya. Tak lama bel makan siang pun berbunyi. “Huft.. baguslah. Waktunya makan siang.” Ujar Han. Seuruh murid berhamburan keluar kelas.

***

Pulang sekolah

“Han tadi kenapa kau tidur di kelas?” tanya Tian.
“Habisnya tadi aku mengantuk.” Jawab Han.
“Mimpi apa kau tadi?” tanya Fa.
“Hehe.. mimpi diberi tugas oleh komandan polisi.” jawab Han.
“Pantas tadi kau hormat. Sudah seperti orang bodoh saja.” sela Lin
“Enak saja kau ini!” kesal Han.
“Maaf. Kan hanya bercanda.” Sesal Lin terpaksa.
“Huhh.. dasar kau!!” ucap Han

Sesampainya di stasiun kereta

“Han laporan tugas fisika ada pada mu kan?” tanya Fa. “Iya.. tenang saja fa. Nih ada di dalam tasku!” jawab han sambil menunjukkan tas yang ada di punggungnya. “Bagus.. bagus.. besok jangan lupa kau bawa. Kau tahu kan? Guru fisika kita seperti apa?” ujar Lin mengingatkan.
            “Iyaa.. tenang saja aku kan tidak pelupa seperti kau” sahut Han meledek. “Hhh... kau ini bisanya membicarakan keburukan orang saja.” Kesal Lin. “Memang kau seperti itu kan!?” sahut Han “Sudahlah, kalian berdua ini bisanya bertengkar saja.” Sela Fa. “Hei, keretanya sudah tiba tuh.” seru Tian. “Ayo naik!” ajak Han pada yang lain.

***

“Surat-surat penting tadi ada padamu kan?” tanya Quan Yao. “ada di dalam tasku.” respon Quan Tao singkat. “Besok jangan lupa kau bawa. Itu semua adalah surat-surat penting.” Tambah Quan Yao. “iya cerewet!” kesal Quan Tao. “Dari tadi kau hanya makan permen saja!” tambah Quan Tao. “Memangnya kanapa? Kau mau? Aku masih punya lagi.” Sahut Quan Yao. “Hhh... kau ini saudara kembar yang paling aneh yang pernah ku dapatkan!” jengkel Quan Tao.
            Han, Lin, Fa, dan Tian masuk kedalam kereta dan duduk di samping Quan Tao dan Quan Yao. Han menaruh tas di samping kirinya. Tak lama kereta pun berjalan.
            15 menit berlalu, sampailah kereta itu di stasiun Qigu. Quan tao dan Quan Yao pun turun dari kereta. “Tunggu!” seru Quan Tao mengambil tas yang tadi berada di samping kanannya. “Ayolah. cepat sedikit.” Seru Quan Yao. Mereka pun keluar dari kereta. Dan kereta pun berjalan kembali.
             Mereka berdua kembar kan? Sikapnya berbeda sekali!” ujar Han. “Tasmu juga sama dengan mereka Han!” tambah Lin menyamakan. “Kan hanya tasku saja, bukan wajahku yang sama. Lagipula tas seperti ini banyak di toko tas. Tas sepertimu juga pasaran!” jawab Han. “Iya, iya.. aku tahu.” Sahut Lin. “Kita sudah sampai tuh!” sela Tian. Mereka berempat pun turun di stasiun Taizong. Dari stasiun, mereka berjalan menuju rumah masing-masing.

***

            “Huh.. tas ini berat sekali! Gantian kau yang membawanya!” keluh Quan Tao. “ Payah kau ini! Tas seperti ini saja kau tak mampu untuk membawanya.” Ledek Quan Yao. “Bukannya tidak mampu, tapi rasanya tas ini bertambah berat.” Bela Quan Tao. “Wuuaahh.. benar juga kau! Mungkin ini karena kita sudah lelah. Sehingga tas ini terasa berat.” Jelas Quan Yao. “ Alasan yang masuk akal.” Jawab Quan Tao. Tak lama mereka berdua sampai di rumah. “Aku pulang!” seru Quan Yao ketika membuka pintu. “Dasar bodoh! Di rumah ini kita hanya tinggal berdua. Kau mengucapkan ‘aku pulang’ untuk siapa!?” sahut Quan Tao. “Ngg.. untuk satu kotak penuh permen lolipopku!” seru Quan Yao. Quan Tao hanya melirik ke arah Quan Yao.
“Kemarikan tasnya! Aku ingin mengambil handphoneku!” seru Quan Tao sambil mengambil sekaleng soft drink dari dalam lemari es. “Tuh, di atas meja! Ambilah sendiri.” Jawab Quan Yao menuangkan jus jeruk ke dalam gelasnya. “Hahh.. kau ini! Aku kan minta tolong padamu!” jengkel Quan Tao lalu mengambil tas itu kemudian memangkunya.
“Hahh.. GAWAT!!” seru Quan Tao ketika membuka tas tersebut. “Ada apa? Kau hampir saja membuatku tersedak! Memangnya ada apa? Handphonemu hilang? Kalau hilang kan tinggal kau cari. Kalau tidak ketemu, ya kau beli lagi saja.” Sahut Quan Yao sambil kemabli meminum jus jeruknya. “Bukan handphoneku saja yang hilang! Tapi semuanya hilang!!” seru Quan Tao panik.
            “Buurr..” Quan Yao menyemburkan jus jeruk yang ada di dalam mulutnya. “Apa yang kau katakan?!” ujar Quan Yao sambil mengelap mulutnya. “Kemarilah!!” seru Quan Tao. Quan Yao pun barlari melompati sofa dan duduk di samping Quan Tao kemudian memastikan apakah tas itu tertukar atau tidak?. “Lalu bagaimana?” bingung Quan Yao. “ Aku pun tak tahu.” Jawab Quan Tao lemas. “Kau inagt anak perempuan yag tadi sutu kereta dengan kita? Tasnya mirip dengan tas milik kita.” Ingat Quan Tao “Dasar bodoh! Mengapa kau tukar tas kita?” kesal Quan Yao. “Aku tidak menukarnya!” bela Quan Tao. “apa kata komandan besok?!” keluh Quan Yao. “Hhh.. aku pun tak tahu.”

***

            “Aku pulang!!” seru Han ketika masuk ke rumah. Han langsung menuju kamarnya yang berada di lantai dua. “Tadi aku taruh dimana ya permen karetku? Sepertinya di dalam tas.”ujar Han sendirian. Saat ia membuka tasnya, ia kaket karena tas itu bukan tas miliknya. “GAWAT...!?” kaget Han.
“Sial.. semua tugas fisika, handphoneku, permen karet, dan topi kesayanganku ada di sana semua!” ujarnya secepat kilat. “Handphoneku lowbatt lagi! Aduh kacau!!” Han bertambah panik. “Oke Han! Tenang, tenangkan dirimu.. santai, rileks.” Ucap Han menenangkan diri. “Arrghh... tidak bisa!! Aku takkan bisa tenang kalau begini caranya!!” bantah Han pada dirinya sendiri. Ia pun berlari keluar kamar menuju meja telepon. Ia menelepon Lin dan memberi tahu bahwa tasnya telah tertukar. Dasar sial, Lin tidak percaya pada apa yang dikatakan Han padanya.”Ayolah Lin, kumohon kau percaya! Tasku benar-benar  tak ada padaku saat ini.” Pinta Han supaya Lin mempercayainya. “Baiklah, aku percaya padamu. Tapi, besok jangan luapa” kau bawa tugasnya.” Jawab Lin. “Dasar bodoh! Itu sama saja kau tak mempercayaiku! Hahh.. sudahlah! Percuma berbicara padamu!!” Han langsung menutup telepon lalu kembali kekamarnya.
Esok paginya, Han bangun dengan raut wajah yang lemas, seperti tak bertenaga. “Bagaimana ini?” desah Han setelah selesai sarapan. “Han kenapa kau membawa dua tas hari ini?” tanya Ibu bingung. “Eh.. ng..ng.. tas yang ku gendong untuk pelajaranku hari ini, dan tas yang satunya lagi untuk tugas kelompokku dengan Lin, Fa, dan Tian.” jelas Han pada Ibunya. “Ohh.. perlu ibu antar Han?” tanya Ibunya. “Tidak perlu Bu! Terima kasih! Aku berangkat dulu!” elak Han. “Hati-hati di jalan.” Sahut Ibunya. Han pun bergegas menuju sekolah.
             Sesampainya di sekolah, Han hanya duduk diam di bangkunya. Tak seperti biasanya ia hanya duduk saja. Lin yang baru datang langsung menghampirinya. “Hei, mengapa kau membawa dua tas hari ini Han?” Tanya Lin kebingungan. “Aku sudah mengatakannya kan padamu. Dan kau tak percaya.” ucap Han seperti Tak berniat mengatakannya. “Hahh..!? jadi tas mu benar-benar Tertukar dengan tas orang? Lalu bagaimana? Kau tahu kan, guru fisika kita seperti apa? Ayolah kau cari solusinya! Seingatku kau meninggalkan handphonemu didalam tasmu kan? Bagaimana kalau kau menghubungi handphonemu itu, supaya kita tahu dimana tasmu berada? Ini gawat! Gawat besar! Oh.. sial! Kita sial! Kaenapa kau begitu ceroboh seperti ini Han? Han.. carilah solusinya!” Lin berbicara panjang lebar dan sangat cepat. Han hanya menutupi telinganya sambil mengikuti gerakan mulut Lin yang berbicara tanpa henti.
            “Lin! Berhentilah berbicara! Aku pusing mendengarkan ocehanmu!” gertak Han mengagetkan Lin. “waa..!!” kaget Lin sesaat. Fa danTian terdiam melihat tingkah kedua temannya itu. “Hanphoneku mati, baterainya habis. Jadi percuma saja.” Ucap Han. “Ohh.. kita benar-benar sial hari ini!” ucap Lin memelas. “jangan-jangan, tasku tertukar dengan dua rang kembar kemarin di kereta.” Ingat Han. “mungkin begitu Han.” sahut Tian “Taapi, meraka kan keluar lebih dulu dari pada kita Han.” Jelas Fa. “Berarti, meraka yang salah mengmbil tas.” respon Han. “Bagaimana kalau pulang sekolah nanti kita mencarinya?” usul Tian. “Ide bagus!” jawab Han.

***

            “Hei, Quan Tao! Apa kau punya ide?” tanya Quan Yao sambil memasuki mobil. “Tidak.” Jawab Quan Tao sambil menggelengkan kepalanya. “Bagaimana kalau kita kabur saja?” ujar Quan Yao. “Tidak bisa! Itu namanya kita tidak bertanggung jawab.” Sahut Quan Tao.
“mengapa kita di beri kaset rekaman itu!? Dasar komandan aneh.” tambah Quan Tao. “Kaset apa? Kau tak pernah memberi tahukannya padaku.” Tanya Quan Yao. “Kaset rekaman transaksi pembelian heroin.” Jawab Quan Tao. “menagpa aku tak tahu?” bingung Quan Yao. “ kau saja yang tak pernah mendengarkan jika di beri tugas.” Jawab Quan Tao “Sudahlah! Cepat jalan!” tambah Quan Tao. Mereka pun berangkat menuju kantor pusat kepolisian Hongkong.
            “Bisakah kau berjalan lebih cepat lagi?!” jengkel Quan Tao. “Kalau begitu, kau saja yang menyetir mobil ini!” sahut Quan Yao. “Iya, kita bukan sampai di kantor polisi. Melainkan ke pemakaman.” Jawab Quan Tao. “Ya sudah, kalau begitu diam saja kau.” Balas Quan Yao.
            Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di kantor pusat kepolisian. Dengan perasaan takut, mereka mencoba untuk memberanikan diri masuk ke dalam ruangan pak komandan Maa Yong Chen.
            “Kalian ini bagaimana? Kaset itu merupakan satu-satunya bukti untuk menangkap bandar heroin itu!!” bentak komandan Maa pada dua polisi muda itu. “Maafkan kami pak.” Ucap Quan Tao menyesal. “Hhh..” desah komandan Maa. Kemudian ia mengangkat gagang telepon dan menekan tombolnya. “Polisi Chen, segera Keruangan saya! Ada tugas penting untukmu!”
            Tak lama, masuklah polisi Chen ke ruangan komandan Maa. “Siap pak! Apa bapak memanggil saya?”ucap Chen sigap sambil memberi hormat. “Kau bantu mereka berdua mencari tas berisi kaset rekaman transaksi pembelian heroin dari bandar heroin buronan kita itu! Dan ingat jangan kembali sebelum berhasil menemukannya.” perintah komandan Maa. Mereka pun keluar dari ruangan komandan Maa dan bergegas mencari tas tersebut.
            “Hei, apa yang harus ku cari? Aku pun tak mengetahui bentuk dan warna tas itu.” Ucap Chen. “Tasnya seperti ini” jawab Quan Yao menunnjukkan tas yang ia pegang . “Hmm.. baiklah. Sebaiknya kita bergegas mencarinya.” Ucap Chen. Quan Tao dan Quan Yao menganggukkan kepalanya. Chen menaiki motornya, sementara Quan Tao dan quan Yao mengendarai mobil. “Kita berpencar!” seru Chen. Mereka pun mulai mencari tas tersebut.

No comments:

Post a Comment