Saturday, February 4, 2012

Little Police Part III (Ending)


Part Three

Q
uan Tao dan Quan Yao dengan girangnya menuju mobil. Sampai-sampai mereka terjatuh karena Quan Yao menginjak tali sepatu Quan Tao yang terlepas. “BRUUKK!!” mereka jatuh dengan keras. “Dasar bodoh! Hahaha.. ” ujar Han lalu tertawa. “Kau ini bagai mana? Kenapa kau menginjak tali sepatu ku?” kesal Quan Tao. “Salahkan saja tali sepatumu! Kenapa harus terlepas?” bela Quan Yao. “Sudahlah, kalian berdua jangan bertengkar begitu!” lerai Chen. Yang lainnya hanya tertawa melihat Quan Tao dan Quan Yao terjatuh. Kemudian mereka bergegas menuju mobil, sementara Chen menaiki motornya.
Selama perjalanan, Han hanya menggaruk kepalanya yang gatal karena mengenakan wig. Semula Lin yang ingin bertanya justru menyadari bahwa Han menggunakan pakaian perempuan yang sebelumnya tak pernah Han gunakan. “Han, aku tak salah lihat?” seru Lin geli. “Kenapa?” tidak suka kau!?” sahut Han kemuduan melepas wig yang ia pakai. “Ah tidak..” jawab Lin menahan tawa. Kemudian Han melemparkan wig yang ia pegang ke arah Lin, dan tepat mengenai sasaran. “Aduh!” keluh Lin “Rasakan kau!” ujar Han.

***

“Bos, kami telah mendapatkan kaset rekaman itu!” ujar salah satu anak buah dari Alexander. “Kerja bagus!” sahut Alex. “Lekas berikan kaset itu pada ku!” perintah Alex pada anak buahnya. Kemudian, anak buahnya memberikan tas yang berisi kaset yang telah mereka dapatkan. “Ini bos!” ujar salah seorang anak buahnya. Kemudian, Alex membuka tas itu dan mengambil isinya. Kemudian ia menyetel kaset tersebut.
Setelah diputar, ternyata kaset yang mereka dapatkan bukan kaset rekaman transaksi pembelian heroin. Melainkan kaset yang senggaja ditukar oleh Han. Isi dari kaset itu adalah rekaman pelampiasan kekesalan Han pada kakaknya yang seenaknya menghabiskan pulsa milik Han, menghabiskan jatah sarapan, makan siang dan makan malam selama seharian, dan mengacau tugas kimia yang sudah susah payah Han kerjakan.
Namun kaset yang sengaja Han tukar itu berkesan meledek dan menghina Alex dan anak buahnya. “Dasar bodoh! Kau berani mengerjaiku!? Melakukan semua hal seenakmu!? Dan sekarang kau sudah ku kerjai lagi dan mendapat balasannya! Haha.. dasar penjahat yang tak berguna! Weekk.. rasakan pembalasanku!”
Alex yang geram melihat rekaman tersebut, kemudian menembak layar televisi yang sedang ia lihat menggunakan pistolnya. “Anak kecil sialan! Beraninya dia mengejekku!” kesal Alex. “Dasar bodoh! Kalian ini bagaimana? Kalian semua bisa dipermainkan oleh anak kecil?!” bentak Alex pada anak buahnya. “Bos juga bodoh. Kenapa bisa dibohongi oleh anak kecil?” sahut salah seorang anak buahnya dengan polosnya. Sementara anak buah Alex yang lain tetap tertunduk mendengar perkataan temannya itu.
“Menurutmu aku bodoh ya?” sahut Alex perlahan sambil mendekati anak buahnya itu. “I..iya” sahut anak buahnya itu. “Benar juga katamu!” sahut Alex dan kemudian, ia menembak kepala anak buahnya itu hingga tewas. “Masih ada yang berani menghina dan membantahku lagi!?” seru Alex pada anak buahnya yang lain. Anak buahnya hanya menggelengkan kepala. “Bagus” sahut Alex perlahan “Sekarang, kita harus berhasil mendapatkan kaset rekaman itu bagaimana pun caranya.” Ujar Alex “Lihat pembalasanku polosi sialan!” desahnya licik.

***

“Ternyata, tak rugi juga tas kita tertukar.” Ujar Quan Tao. “Kalian berdua memang tidak rugi, tapi kami? Kami harus kehilangan 20 poin pada tugas fisika kami kali ini.” Jelas Han. “Tapi, kalian berdua ini payah! Menghadapi masalah seperti ini saja harus di bantu oleh anak kecil.” Ledek Han. “Kami ini belum berpengalaman. Baru saja lulus sekolah kepolisian 3 minggu lalu, tapi sudah diberi tugas yang seperti ini.” Jelas Quan Yao sambil menyetir. “Hah? Baru lulus tugas yang kalian dapatkan sudah sebegini sulitnya?” kaget Han. “Ya, kami pun bingung.” Tambah Quan Tao. “Mereka itu bandar narkoba yang selalu lolos dalam penyidikan polisi, karena mereka bisa memnyembunyikan semua barang bukti tanpa diketahui polisi. Terlebih pemimpin para penjahat itu yang bernama Alexander Chow adalah bandar heroin yang sangat kejam.” Jelas Han
“Jangan mengada-ada kau Han.” ujar Lin “Yang Han katakan itu benar.” Sahut Quan Yao. “Alexander Chow sang bos dari para bandar narkoba itu memang kejam. Menurut datanya, ia tak segan-segan membuuh semua orang yang menghianatinya.” Tanbah Quan Tao. “Tapi, tahu dari mana kau tentang Alexander Chow itu?” tanya Quan Yao. “ Memangnya penting aku tahu dari mana?” sahut Han. “Tidak juga sih!” sahut Quan Yao.
“Hei kak Chen sudah tiba lebih dulu!” seru Fa ketika tiba di depan rumah milik Quan Tao dan Quan Yao. “Kemana saja kalian ini? Lama sekali.” Ujar Chen. “Bagaimana tidak lama? Yang memnyetir si lamban Quan Yao.” Sahut Quan Tao. “Kau menghinaku? Salahkan saja Han! Ia tak mau saat kusuruh menyetir!” Quan Yao berbalik menyalahkankan Han. “Enak saja kau ini! Kau tak pernah menyuruhku!” timpal Han. “Lebih baik kalian berganti pakaian terlebih dahulu!” sela Tian melerai.
“Ide bagus! Aku sudah tak betah menggunakan pakaian ini.” Keluh Han. Quan Tao, Quan Yao, dan Han pun mengganti pakaian mereka. Begitu selesai mengganti pakaian Han meresa bebas tanpa pakaian perempuan yang barusan ia kenakan. “Tiaannn... aku pinjam laptopmu!” seru Han. “Ini!” sahut Tian sambil memberikan laptopnya.
Han mulai sibuk mencari keberadaan para penjahat itu. “Hei, Han! Kenapa kau melacaknya lagi? Bukannya kita sudah punya alamat mereka?” bingung Quan Tao.”seorang penjahat besar tak mungkin hanya memiliki satu buah markas saja.” Sahut Chen. “Sudah terjawab!” tambah Han sambil terus mencari. “Oh.” Sahut Quan Tao. Pencarian pun berlanjut, yang lain nampak serius memperhatikan Han melacak keberadaan para penjahat itu. Han pun terlihat serius mencari keberadaan para penjahat yang mereka cari.
“Dapat!!” seru Han memecah keheningan. “Jalan Hau Ko nomor 36 kira-kira 3km dari sini. Tepatnya sebelah timur gedung serbaguna. Dan disini tertulis, bekas pabrik permen lolipop.” Jelas Han. “Pabrik lolipop? Sepertinya aku tahu tempat itu! Ayo kesana!” seru Quan Yao. “Dasar anak lolilpop!” desah Quan Tao. “Ya! Ayo bergegas!” ujar Chen. Mereka pun mempersiapkan diri untuk pertempuran yang sebenarnya. Quan Tao, Quan Yao, Han, Fa, dan Tian segera memasuki mobil. Sementara, Chen dan Lin menaiki motor milik Chen.
Setibanya di bekas pabrik lolipop itu, mereka segera mengendap ke dalam pabrik itu. “Sepertinya pabrik ini telah berubah fungsi.” Desah Chen. “Bagaimana kalau kita berpencar?” ujar Quan Tao. “Aku, Han, dan Fa kesana. Quan Yao dan Lin kesana. Sementara pak Chen dan Tian kesana.” Jelas Quan Tao. Yang lain hanya mengangguk dan mengikuti perintah.
“Hei, haruskah kita berpencar?” tanya Lin nampak ketakutan.
“Sudahlah! Diam saja kau!” sahut Quan Yao sambil membuka sebungkus permen lolipop.
“Di saat seperti ini masih sempat saja kau memakan permen lolipop!” ujar Lin
“Kenapa? Ada yang melarang? Apa kau mau?” sahut Quan Yao yang kemudian menawarkan permen lolipop yang ada di sakunya.
“Hmm.. boleh! Terima kasih!” jawab Lin yang memang hobi makan itu.
“Tadi kau melarangku! Tapi ternyata kau mau juga! Huh!” jengkel Quan Yao
“Hehehe..” Lin hanya tersenyum.
“Ayo jalan Lagi!” tambah Quan Yao.
Lin dan Quan Yao pun terus menyusup ke dalam bekas parik permen lolipop itu dan akhirnya mereka melihat beberapa orang yang sedang membuat heroin.
“Hei, Han! Kau yakin kita akan ketempat ini?” tanya Quan Tao.
“Tadi kau yang mengusulkannya bukan? Supaya kita yang pergi ke arah sini?” sahut Han
“Sstt.. jangan keras-keras! Nanti kita ketahuan.” Bisik Fa.
“Ayo jalan lagi!” tambah Quan Tao.
Tiba-tiba, saat mereka berjalan memasuki pabrik itu, 3 orang penjaga melihat Quan Tao, Han dan Fa yang sedang berjalan mengendap. “Siapa kalian?” seru salah seorang dari penjaga itu. “Tentu saja manusia! Kau tak bisa lihat?!” celetuk Han spontan. “Habisi mereka!” seru panjaga itu sambil membawa seuah balok kayu. “Hyaa!!” seru Quan Tao, Han daf Fa menyerang para penjaga itu. Tanpa disadari sang penjaga, Han berhasil merebut balok kayu yang di pegang olehnya.
“Hhh.. kau ini payah sekali. Memegang balok kayu seperti ini saja tidak bisa!” ledek Han pada penjaga itu. “Rasakan ini!” Han memukulkan balok kayu itu. Satu kali pukulan sudah cukup untuk membuat penjaga itu terkapar. “BUG!!” Quan Tao pun berhasil melumpuhkan seorang penjaga lagi.
“Jangan mendekat! Atau anak ini ku bunuh!” seru penjaga yang masih tersisa sambil menodongkan pisau ke arah Fa. “Jangan!” teriak Quan Tao. “BUG!!” Han memukul panjaga itu dari belakang. Seketika, penjaga itu jatuh pingsan. “Dasar bodoh! Menyandra orang tapi tidak hati-hati!” ucap Han santai. “Ayo jalan lagi!” tambahnya.
Chen dan Tian sedang berjalan perlahan. Tidak sengaja, Chen menjatuhkan beberapa tumpukan kardus dan mengagetkan para penjaga yang berada disana. “Siapa itu? Tangkap mereka!” seru salah satu penjaga. “Laariii....!!!!” teriak Tian. Kemudian Chen dan Tian berlari menghindari para penjaga tadi. “Bruukk..” Chen dan Tian menabrak 2 orang dan ternyata itu adalah Quan Yao dan Lin. “Kalian!?” seru keempatnya bersamaan. “Hei, jangan lari kalian!” seru penjaga itu lagi. “Kaabuurr...” seru Lin ketakutan. Tetapi yang lain mengikutinya. Mereka berempat pun bertemu dengan Quan Tao, Han dan Fa. Sekarang mereka terkepung.
“Mau pergi kemana kalian?” ujar penjaga tadi. “O..o..” desah Lin. “Huh! Siapa takut? Maju!!” seru Han. “Hyaa!!” seru yang lainnya bersemangat. Mereka mulai menghajar para penjaga yang berada di pabrik itu. Semuanya berusaha menghabisi para penjaga itu, kecuali Lin. Ia hanya mondar-mandir mengganggu. Berpura-pura menghajar tapi tak pernah berhasil. Malah terkadang ia yang terkena pukulan dan tendangan.
Kemudian Lin mengambil sebuah balok kayu dan memukul seorang penjaga dari belakang.”Rasakan!” bangga Lin. Tak lama ada yang memukul Lin dari belakang, hingga terjatuh. Kemudian, orang yang tadi memukul Lin dipukul lagi oleh Quan Yao hingga pingsan juga. Dan Quan Yao pun di pukul dari belakang hingga terjatuh. Kemudian orang yang memukul Quan Yao pun di habisi oleh Quan Tao dari belakang. Dan penjaga yang ingin memukul Quan Tao dari belakang, berhasil ia hajar hingga pingsan juga. “kalian ini bisa serius atau tidak sih? Ini bukan mainan!” seru Han sambil terus menghajar para penjaga itu. “Cepat bangun!” tambah Han. Quan Yao dan Lin pun bangkit kembali dan mencoba untuk menghajar para penjaga-penjaga itu lagi.
Sekarang Han berhadapan dengan seorang penjaga yang badannya lebih besar dari yang lainnya. Han bersiap menghajar penjaga tersebut. Ia mengepalkan tangan kirinya dan mencoba untuk memukul penjaga itu. Tapi sayangnya, penjaga itu melakukan hal yang sama seperti yang Han lakukan. Sehingga tangan Han dan penjaga itu berhamtaman dengan sangat keras.
 “Aou..huff..huff.. tangan mu keras sekali!” keluh Han sambil mengibaskan tangannya dan sesekali meniupnya karena tangannya terasa panas dan sakit.
Saat penjaga itu masih kesakitan, Han mengambil kesempatan itu untuk memukul penjaga itu menggunakan tangan kanannya. Penjaga itu pun memegangi perutnya kesakitan. “Masih Kurang ya? Rasakan ini!” Han menendang penjaga itu hingga terjatuh tak berdaya. “Huh! Macam-macam denganku! Rasakan kau!” ujar Han pada penjaga yang sudah tak berdaya itu. Kemudian ia mulai menghajar yang lainnya.
Seorang penjaga mencoba memukul Chen menggunakan tongkat besi, tetapi Chen mengkisnya menggunakan lengannya. Penjaga itu terus-menerus memukul Chen, dan Chen pun terus menerus menangkisnya. “Stop!” seru Chen menghentikan perkelahian itu. “Kau pikir tidak sakit terus-menerus menangkis pukulanmu itu?” kesal Chen. “Kalau begitu, tak perlu kau tangkis pukulanku!” sahut penjaga tadi. “Enak saja kau ini! Berikan tongkatnya padaku!” seru Chen meminta tangkat besi itu. Dengan bodohnya, panjaga itu memberikan tongkat besi yang ia pegang pada Chen. “Terima kasih!” ucap Chen. “BUGG!!” Chen memukul penjaga itu. “Sama-sama.” Respon penjaga itu lalu jatuh pingsan. “Ternyata masih sempat juga kau mengucapkan ‘sama-sama’!” ujar Chen lalu mulai melawan penjaga yang lain.
Sementara itu, Quan Tao dan Quan Yao menghadapi Penjaga yang juga kembar seperti mereka. “Wah.. kalian ini! Sudah kelakuan buruk, lalu mengikuti kembar juga seperti kami!” ujar Quan Yao polos. “Kau ini bodoh sekali! Di dunia iniyang kembar bukan hanya kita berdua, tetapi masih banyak lagi.” Sahut Quan Tao sambil menepuk pundak Quan Yao. “Oh iya.. hehehe.. aku lupa!” sahut Quan Yao sambil tersenyum malu. Dalam keadaan seperti itu, penjaga tadi mencoba untuk menghabisi Quan Tai dan Quan Yao. “Makanya, sebelum bicara pikir dulu!” ujar Quan Tao sambil berjongkok dengan santai untuk menghindari pukulan dari penjaga tadi. Tetapi, tetap melanjutkan perbincangan yang mereka lakukan. Sementara itu, penjaga kembar tadi hampir  saja terjatuh karena tidak berhasil memukul Quan Tao dan Quan Yao. “Maaf lah..” sahut Quan Yao kemudian berdiri lagi.
“Kalian berdua itu sedang apa? Memukul begitu saja tidak bisa!” ujar Quan Tao. “Payah sekali kalian ini.” Tambah Quan Yao. Kemudian dua penjaga tadi mencoba  untuk menghajar Quan Tao dan Quan Yao lagi. Dan dengan santainya Quan Tao dan Quan Yao merunduk untuk menghindari para penjaga tadi. “Ck..ck..ck..” decaj Quan Tao dan Quan Yao sambil menggelengkan kepala. “Apa perlu kami ajari?” ujar Quan Yao. Dua penjaga itu justru saling berpandangan. “BUG!! BUG!!” Quan Tao dan Qua n Yao menendang para penjaga tadi. “Begini cara menghajar lawan  yang benar!” seru Quan Tao dan Quan Yao girang. Dan akhirnya, semua penjaga itu berhasil dikalahkan.
Alexander Chen keluar sambil bertepuk tangan beberapa kali. “Kalian semua memang hebat!” ujarnya. “Alexander Chow!” seru Chen, Quan Tao, Quan Yao, dan Han. “Hahaha! Rupanya kalian sudah mengenaliku!” ujar Alex terlihat santai. Kenalkan 5 anak buahku yang ini. Kalian akan mati ditangan mereka!” jelas Alex. Kemudian munculah 5 orang dengan badan besar. Diantaranya berkulit hitam. Dan dua orang dari mereka adalah perempuan yang salah satunya adalah Jessy Chau.
 “Jessy!” seru Chen, Quan Tao dan Quan Yao. “Tak perlu kaget melihatku! Karena sekarang kalian semua akan mati!” sahut Jessy sambil tersenyum licik. “Suadah kuduga dari dulu! Kau memang bukan orang baik-baik!” tambah Han. “Hei, rupanya kau mesih mengingatku Han!” tambah Jessy. “Tentu saja! Wajah jelekmu itu sulit dilupakan!” hina Han “Dasar anak kurang ajar!” kesal Jessy. “Hei, kenal Jessy dari mana kau!?” bingung Quan Yao. “Ayahku polisi dan aku sering bermain kekantornya waktu aku masih kecil.” Jelas Han.
“Tak perlu banya bicara lagi! Habisi mereka!” seru Alexander. “Fa, Lin, Tian, mundurlah!” perintah Han pada teman-temannya. “Ya” Fa, Lin dan Tian hanya menuruti peritah Han. “It’s time to play” bisik Han. “HYAA!!!!” seru Chen, Han, Quan Tao dan Quan Yao. Kali ini, mereka berempat bertarung habis-habisan melawan 5 orang anak buah Alex.
Setelah bartarung habis-habisan, kini tersisa Jessy. “Serahkan padaku!” ujar Chen.  Sementara Chen bertarung dengan Jessy, Lin,Fa dan Tian mengikat para anak buah Alex yang sudah berhasil di kalahkan. Kemudian Quan Tao, Quan Yao, dan Han mencari Alex yan mencoba untuk melarikan diri. Han berhasil menemukan Alex yang mencoba untuk menembak Chen dengan pistol yang ia pegang. Han tidak tinggal diam. Ia melihat ada sebuah pistol dilantai dan kemudian mengambilnya. Tampa ragu, Han menembak pistol yang Alex pegang hingga terpental cukup jauh.
Kemudian Alex mencoba untuk melarikan diri, tetapi terlambat,. Quan Tao dan Quan Yao sudah mengepungnya. “Mau kabur kemana kau bandar narkoba murahan!” ujar Quan Tao ketika mengepung Alex. “Memangnya dia laku kalau dijual? Hahaha” ledek Quan Yao. “Kau ini! Ayo tangkap dia!” sahut Quan Tao. Jessy pun berhasil dikalahkan oleh Chen. Kemudian Quan Yao menghubungi kator polisi.Tak lama, polisi datang dan meringkus para bandar narkoba termasuk bosnya Alexander Chow.
“Aku penasaran dengan komandan kalian itu!” ujar Han pada Quan Tao dan Qua Yao.
“Mungkin sebentar lagi komandan paling aneh itu datang.” Sahut Quan Yao.
Bebrapa saat kemudian datanglah Maa Yong Chen sang komandan kepolisian.
“Ia datang!” bisik Quan Tao.
“Dia komandanmu?” kaget Han.
“Ya!  Tepat sekali!” Jawab Quan Tao.
“Laki-laki berbadan tinggi besar yang sedang berjalan ke arah kita itu?” ujar Han memperjelas.
“Iya! Dialah komandan kami.” Sahut Quan Yao.
“Dia Ayahku!” ujar Han.
“Hah? Kau tak salah? Mungkin dia hanya mirip dengan ayahmu.” Sahut Quan Tao tak percaya
“Bodoh! Aku pasti mengenali ayahku sendiri!” jengkel Han kemudian bersembunyi dibalik Chen, Quan Tao, dan Quan Yao.
“Polisi Quan, polisi Chen.” Panggil Maa pada anak buahnya.
“Siap Pak!” sahut Quan Tao, Quan Yao, dan Chen memberi hormat.
“Kerja bagus.” Ujar Maa bangga.
“Sepertinya aku mengenal Kalian bertiga.” Tambah Maa saat melihat Lin, Fa, dan Tian.
”Kami teman dari Han.” Sahut Lin.
“Han? Apa dia ada disini sekarang?” tanya Maa.
Quan Tao, Quan Yao, dan Chen menyingkir dan terlihatlah Han yang dari tadi bersembunyi.
“Hai ayah.” Sapa Han.
“Han! Aku mencarimu kemana-mana!” ujar ayahnya pada Han lalu memeluk Han. “Dasar anak nakal! Kemana saja kau 2 hari ini? Aku dan ibumu telah mencari mu dan ketiga temanmu! Dan ternyata kau berada disini!” omel Maa pada anaknya.
“Maaf Aku membantu mereka menangkap Alexander Chow yang sudah lama ayah incar.” Jelas han girang.
“Apa? Kau membantu mereka menangkap Bandar heroin kejam itu?kan aku yah. Aku hanya mencoba mencari tasku yang waktu itu tertukar dengan tas milik kedua kakak ini. Dan akhirnya aku ikut membantu mereka.” Jelas Han.
Chen, Quan Tao, dan Quan Yao hanya tersenyum ketakutan.
“Apa yang kau lakukan itu berbahaya Han! Seharusnya kau tak pernah melakukannya.” ujar Maa.
“Maaf yah, aku terpaksa tak pulang selama 2 hari, karena waktu itu Lin disandra olah para penjahat itu, aku tak mau orang mengatakan aku ini orang yang tak bertanggung jawab karena telah meninggalkan temanku sendiri dalam keadaan bahaya.” jelas Han.
“Maaf komandan, maksud Han memang baik. Bahkan menurutku dia pantas menjadi seprang polisi muda.” Tambah Quan Yao.
“Benar komandan, sebaiknya kau tak memarahinya.” Tambah Chen.
“Iya, kalau dia tidak menyelamatkannku, mungkin aku sudah terbunuh.” Sela Lin.
“Baiklah, tapi kuharap kau tak pernah melakukan hal ini lagi. Karena aku tak mau sesuatu terjadi padamu seperti yang dialami kakak mu, Zhai.” Ujar ayahnya.
“Baik yah.” Sahut Han Perlahan
“Memangnya Han punya kakak yang Bernama Zhai?” bisik Lin.
“Iya, tapi sudah sekarang sudah tiada.”  Sahut Chen.
“Oh, maaf” tambah Lin.
“Chen, ku minta kau kembali mengawasi anakku yang satu ini!” perintah Maa sambil mengusap kepala Han.
“Sipa Pak!” sahut Chen
“Ayah, jangan lakukan ini di depan temanku.” Ujar Han melepaskan tangan ayahnya.
“Lagi?” bingung Lin
“Memang kau tak pernah diberi tahu Han, kalau waktu kecil ia sering bermain di kantor polisi, dan ada seorang pria yang menjaganya, dan mungkin itu kak Chen.” Jelas Fa panjang lebar.
“Paman Chen!” seru Han.
“Kemari kau anak nakal!” sahut Chen.
“Hei! Berhenti menyabutku seperti tu!” sahut Han menyerang Chen.
“Rupanya belum puas kau bermain dengan bahaya yang baru kau lalui.”
“itu belum cukup untuk orang seperti ku! Hya!!” sahut Han. Dan akhirnya Han, Lin, Fa, dan Tian mendapat gelar Polisi Cilik dari kepolisian Hong Kong.
“Hah? Mimpi apa aku barusan?” bingung Han ketika ia terbangun.
“Tapi, kerenjuga mimpiku barusan.” Tambahnya.
“Hoaahhm... aku masih mengantuk.” Ujarnya sambil melihat jam di tangannya.
“Baru jam 9 pagi.” Ujarnya tidur kembali.
“HAH? JAM 9 PAGI? AKU BISA TERLAMBAT MENGIKUTI LOMBA KUNG FU DI GUANGDONG HARI INI!!!” teriak Han ketika sadar bahwa ia hampir terlambat.


***THE END***

No comments:

Post a Comment