Part
Three
Q
|
uan Tao dan Quan Yao
dengan girangnya menuju mobil. Sampai-sampai mereka terjatuh karena Quan Yao
menginjak tali sepatu Quan Tao yang terlepas. “BRUUKK!!” mereka jatuh dengan
keras. “Dasar bodoh! Hahaha.. ” ujar Han lalu tertawa. “Kau ini bagai mana?
Kenapa kau menginjak tali sepatu ku?” kesal Quan Tao. “Salahkan saja tali sepatumu!
Kenapa harus terlepas?” bela Quan Yao. “Sudahlah, kalian berdua jangan
bertengkar begitu!” lerai Chen. Yang lainnya hanya tertawa melihat Quan Tao dan
Quan Yao terjatuh. Kemudian mereka bergegas menuju mobil, sementara Chen
menaiki motornya.
Selama
perjalanan, Han hanya menggaruk kepalanya yang gatal karena mengenakan wig.
Semula Lin yang ingin bertanya justru menyadari bahwa Han menggunakan pakaian
perempuan yang sebelumnya tak pernah Han gunakan. “Han, aku tak salah lihat?”
seru Lin geli. “Kenapa?” tidak suka kau!?” sahut Han kemuduan melepas wig yang
ia pakai. “Ah tidak..” jawab Lin menahan tawa. Kemudian Han melemparkan wig
yang ia pegang ke arah Lin, dan tepat mengenai sasaran. “Aduh!” keluh Lin
“Rasakan kau!” ujar Han.
***
“Bos,
kami telah mendapatkan kaset rekaman itu!” ujar salah satu anak buah dari
Alexander. “Kerja bagus!” sahut Alex. “Lekas berikan kaset itu pada ku!”
perintah Alex pada anak buahnya. Kemudian, anak buahnya memberikan tas yang
berisi kaset yang telah mereka dapatkan. “Ini bos!” ujar salah seorang anak
buahnya. Kemudian, Alex membuka tas itu dan mengambil isinya. Kemudian ia
menyetel kaset tersebut.
Setelah
diputar, ternyata kaset yang mereka dapatkan bukan kaset rekaman transaksi
pembelian heroin. Melainkan kaset yang senggaja ditukar oleh Han. Isi dari
kaset itu adalah rekaman pelampiasan kekesalan Han pada kakaknya yang seenaknya
menghabiskan pulsa milik Han, menghabiskan jatah sarapan, makan siang dan makan
malam selama seharian, dan mengacau tugas kimia yang sudah susah payah Han
kerjakan.
Namun
kaset yang sengaja Han tukar itu berkesan meledek dan menghina Alex dan anak
buahnya. “Dasar bodoh! Kau berani mengerjaiku!? Melakukan semua hal seenakmu!?
Dan sekarang kau sudah ku kerjai lagi dan mendapat balasannya! Haha.. dasar
penjahat yang tak berguna! Weekk.. rasakan pembalasanku!”
Alex
yang geram melihat rekaman tersebut, kemudian menembak layar televisi yang
sedang ia lihat menggunakan pistolnya. “Anak kecil sialan! Beraninya dia
mengejekku!” kesal Alex. “Dasar bodoh! Kalian ini bagaimana? Kalian semua bisa
dipermainkan oleh anak kecil?!” bentak Alex pada anak buahnya. “Bos juga bodoh.
Kenapa bisa dibohongi oleh anak kecil?” sahut salah seorang anak buahnya dengan
polosnya. Sementara anak buah Alex yang lain tetap tertunduk mendengar
perkataan temannya itu.
“Menurutmu
aku bodoh ya?” sahut Alex perlahan sambil mendekati anak buahnya itu. “I..iya”
sahut anak buahnya itu. “Benar juga katamu!” sahut Alex dan kemudian, ia
menembak kepala anak buahnya itu hingga tewas. “Masih ada yang berani menghina
dan membantahku lagi!?” seru Alex pada anak buahnya yang lain. Anak buahnya
hanya menggelengkan kepala. “Bagus” sahut Alex perlahan “Sekarang, kita harus
berhasil mendapatkan kaset rekaman itu bagaimana pun caranya.” Ujar Alex “Lihat
pembalasanku polosi sialan!” desahnya licik.
***
“Ternyata,
tak rugi juga tas kita tertukar.” Ujar Quan Tao. “Kalian berdua memang tidak
rugi, tapi kami? Kami harus kehilangan 20 poin pada tugas fisika kami kali
ini.” Jelas Han. “Tapi, kalian berdua ini payah! Menghadapi masalah seperti ini
saja harus di bantu oleh anak kecil.” Ledek Han. “Kami ini belum berpengalaman.
Baru saja lulus sekolah kepolisian 3 minggu lalu, tapi sudah diberi tugas yang
seperti ini.” Jelas Quan Yao sambil menyetir. “Hah? Baru lulus tugas yang
kalian dapatkan sudah sebegini sulitnya?” kaget Han. “Ya, kami pun bingung.”
Tambah Quan Tao. “Mereka itu bandar narkoba yang selalu lolos dalam penyidikan
polisi, karena mereka bisa memnyembunyikan semua barang bukti tanpa diketahui
polisi. Terlebih pemimpin para penjahat itu yang bernama Alexander Chow adalah
bandar heroin yang sangat kejam.” Jelas Han
“Jangan
mengada-ada kau Han.” ujar Lin “Yang Han katakan itu benar.” Sahut Quan Yao.
“Alexander Chow sang bos dari para bandar narkoba itu memang kejam. Menurut
datanya, ia tak segan-segan membuuh semua orang yang menghianatinya.” Tanbah
Quan Tao. “Tapi, tahu dari mana kau tentang Alexander Chow itu?” tanya Quan
Yao. “ Memangnya penting aku tahu dari mana?” sahut Han. “Tidak juga sih!”
sahut Quan Yao.
“Hei
kak Chen sudah tiba lebih dulu!” seru Fa ketika tiba di depan rumah milik Quan
Tao dan Quan Yao. “Kemana saja kalian ini? Lama sekali.” Ujar Chen. “Bagaimana
tidak lama? Yang memnyetir si lamban Quan Yao.” Sahut Quan Tao. “Kau menghinaku?
Salahkan saja Han! Ia tak mau saat kusuruh menyetir!” Quan Yao berbalik
menyalahkankan Han. “Enak saja kau ini! Kau tak pernah menyuruhku!” timpal Han.
“Lebih baik kalian berganti pakaian terlebih dahulu!” sela Tian melerai.
“Ide
bagus! Aku sudah tak betah menggunakan pakaian ini.” Keluh Han. Quan Tao, Quan
Yao, dan Han pun mengganti pakaian mereka. Begitu selesai mengganti pakaian Han
meresa bebas tanpa pakaian perempuan yang barusan ia kenakan. “Tiaannn... aku
pinjam laptopmu!” seru Han. “Ini!” sahut Tian sambil memberikan laptopnya.
Han
mulai sibuk mencari keberadaan para penjahat itu. “Hei, Han! Kenapa kau
melacaknya lagi? Bukannya kita sudah punya alamat mereka?” bingung Quan
Tao.”seorang penjahat besar tak mungkin hanya memiliki satu buah markas saja.”
Sahut Chen. “Sudah terjawab!” tambah Han sambil terus mencari. “Oh.” Sahut Quan
Tao. Pencarian pun berlanjut, yang lain nampak serius memperhatikan Han melacak
keberadaan para penjahat itu. Han pun terlihat serius mencari keberadaan para
penjahat yang mereka cari.
“Dapat!!”
seru Han memecah keheningan. “Jalan Hau Ko nomor 36 kira-kira 3km dari sini.
Tepatnya sebelah timur gedung serbaguna. Dan disini tertulis, bekas pabrik
permen lolipop.” Jelas Han. “Pabrik lolipop? Sepertinya aku tahu tempat itu!
Ayo kesana!” seru Quan Yao. “Dasar anak lolilpop!” desah Quan Tao. “Ya! Ayo
bergegas!” ujar Chen. Mereka pun mempersiapkan diri untuk pertempuran yang
sebenarnya. Quan Tao, Quan Yao, Han, Fa, dan Tian segera memasuki mobil.
Sementara, Chen dan Lin menaiki motor milik Chen.
Setibanya
di bekas pabrik lolipop itu, mereka segera mengendap ke dalam pabrik itu.
“Sepertinya pabrik ini telah berubah fungsi.” Desah Chen. “Bagaimana kalau kita
berpencar?” ujar Quan Tao. “Aku, Han, dan Fa kesana. Quan Yao dan Lin kesana. Sementara
pak Chen dan Tian kesana.” Jelas Quan Tao. Yang lain hanya mengangguk dan
mengikuti perintah.
“Hei,
haruskah kita berpencar?” tanya Lin nampak ketakutan.
“Sudahlah!
Diam saja kau!” sahut Quan Yao sambil membuka sebungkus permen lolipop.
“Di
saat seperti ini masih sempat saja kau memakan permen lolipop!” ujar Lin
“Kenapa?
Ada yang melarang? Apa kau mau?” sahut Quan Yao yang kemudian menawarkan permen
lolipop yang ada di sakunya.
“Hmm..
boleh! Terima kasih!” jawab Lin yang memang hobi makan itu.
“Tadi
kau melarangku! Tapi ternyata kau mau juga! Huh!” jengkel Quan Yao
“Hehehe..”
Lin hanya tersenyum.
“Ayo
jalan Lagi!” tambah Quan Yao.
Lin
dan Quan Yao pun terus menyusup ke dalam bekas parik permen lolipop itu dan
akhirnya mereka melihat beberapa orang yang sedang membuat heroin.
“Hei,
Han! Kau yakin kita akan ketempat ini?” tanya Quan Tao.
“Tadi
kau yang mengusulkannya bukan? Supaya kita yang pergi ke arah sini?” sahut Han
“Sstt..
jangan keras-keras! Nanti kita ketahuan.” Bisik Fa.
“Ayo
jalan lagi!” tambah Quan Tao.
Tiba-tiba,
saat mereka berjalan memasuki pabrik itu, 3 orang penjaga melihat Quan Tao, Han
dan Fa yang sedang berjalan mengendap. “Siapa kalian?” seru salah seorang dari
penjaga itu. “Tentu saja manusia! Kau tak bisa lihat?!” celetuk Han spontan.
“Habisi mereka!” seru panjaga itu sambil membawa seuah balok kayu. “Hyaa!!”
seru Quan Tao, Han daf Fa menyerang para penjaga itu. Tanpa disadari sang
penjaga, Han berhasil merebut balok kayu yang di pegang olehnya.
“Hhh..
kau ini payah sekali. Memegang balok kayu seperti ini saja tidak bisa!” ledek
Han pada penjaga itu. “Rasakan ini!” Han memukulkan balok kayu itu. Satu kali
pukulan sudah cukup untuk membuat penjaga itu terkapar. “BUG!!” Quan Tao pun
berhasil melumpuhkan seorang penjaga lagi.
“Jangan
mendekat! Atau anak ini ku bunuh!” seru penjaga yang masih tersisa sambil
menodongkan pisau ke arah Fa. “Jangan!” teriak Quan Tao. “BUG!!” Han memukul
panjaga itu dari belakang. Seketika, penjaga itu jatuh pingsan. “Dasar bodoh!
Menyandra orang tapi tidak hati-hati!” ucap Han santai. “Ayo jalan lagi!”
tambahnya.
Chen
dan Tian sedang berjalan perlahan. Tidak sengaja, Chen menjatuhkan beberapa
tumpukan kardus dan mengagetkan para penjaga yang berada disana. “Siapa itu?
Tangkap mereka!” seru salah satu penjaga. “Laariii....!!!!” teriak Tian.
Kemudian Chen dan Tian berlari menghindari para penjaga tadi. “Bruukk..” Chen
dan Tian menabrak 2 orang dan ternyata itu adalah Quan Yao dan Lin. “Kalian!?”
seru keempatnya bersamaan. “Hei, jangan lari kalian!” seru penjaga itu lagi. “Kaabuurr...”
seru Lin ketakutan. Tetapi yang lain mengikutinya. Mereka berempat pun bertemu
dengan Quan Tao, Han dan Fa. Sekarang mereka terkepung.
“Mau
pergi kemana kalian?” ujar penjaga tadi. “O..o..” desah Lin. “Huh! Siapa takut?
Maju!!” seru Han. “Hyaa!!” seru yang lainnya bersemangat. Mereka mulai
menghajar para penjaga yang berada di pabrik itu. Semuanya berusaha menghabisi
para penjaga itu, kecuali Lin. Ia hanya mondar-mandir mengganggu. Berpura-pura
menghajar tapi tak pernah berhasil. Malah terkadang ia yang terkena pukulan dan
tendangan.
Kemudian
Lin mengambil sebuah balok kayu dan memukul seorang penjaga dari
belakang.”Rasakan!” bangga Lin. Tak lama ada yang memukul Lin dari belakang,
hingga terjatuh. Kemudian, orang yang tadi memukul Lin dipukul lagi oleh Quan
Yao hingga pingsan juga. Dan Quan Yao pun di pukul dari belakang hingga
terjatuh. Kemudian orang yang memukul Quan Yao pun di habisi oleh Quan Tao dari
belakang. Dan penjaga yang ingin memukul Quan Tao dari belakang, berhasil ia
hajar hingga pingsan juga. “kalian ini bisa serius atau tidak sih? Ini bukan
mainan!” seru Han sambil terus menghajar para penjaga itu. “Cepat bangun!”
tambah Han. Quan Yao dan Lin pun bangkit kembali dan mencoba untuk menghajar
para penjaga-penjaga itu lagi.

“Aou..huff..huff.. tangan mu keras
sekali!” keluh Han sambil mengibaskan tangannya dan sesekali meniupnya karena
tangannya terasa panas dan sakit.
Saat
penjaga itu masih kesakitan, Han mengambil kesempatan itu untuk memukul penjaga
itu menggunakan tangan kanannya. Penjaga itu pun memegangi perutnya kesakitan.
“Masih Kurang ya? Rasakan ini!” Han menendang penjaga itu hingga terjatuh tak
berdaya. “Huh! Macam-macam denganku! Rasakan kau!” ujar Han pada penjaga yang
sudah tak berdaya itu. Kemudian ia mulai menghajar yang lainnya.
Seorang
penjaga mencoba memukul Chen menggunakan tongkat besi, tetapi Chen mengkisnya
menggunakan lengannya. Penjaga itu terus-menerus memukul Chen, dan Chen pun
terus menerus menangkisnya. “Stop!” seru Chen menghentikan perkelahian itu.
“Kau pikir tidak sakit terus-menerus menangkis pukulanmu itu?” kesal Chen.
“Kalau begitu, tak perlu kau tangkis pukulanku!” sahut penjaga tadi. “Enak saja
kau ini! Berikan tongkatnya padaku!” seru Chen meminta tangkat besi itu. Dengan
bodohnya, panjaga itu memberikan tongkat besi yang ia pegang pada Chen. “Terima
kasih!” ucap Chen. “BUGG!!” Chen memukul penjaga itu. “Sama-sama.” Respon
penjaga itu lalu jatuh pingsan. “Ternyata masih sempat juga kau mengucapkan
‘sama-sama’!” ujar Chen lalu mulai melawan penjaga yang lain.
Sementara
itu, Quan Tao dan Quan Yao menghadapi Penjaga yang juga kembar seperti mereka.
“Wah.. kalian ini! Sudah kelakuan buruk, lalu mengikuti kembar juga seperti
kami!” ujar Quan Yao polos. “Kau ini bodoh sekali! Di dunia iniyang kembar
bukan hanya kita berdua, tetapi masih banyak lagi.” Sahut Quan Tao sambil
menepuk pundak Quan Yao. “Oh iya.. hehehe.. aku lupa!” sahut Quan Yao sambil
tersenyum malu. Dalam keadaan seperti itu, penjaga tadi mencoba untuk
menghabisi Quan Tai dan Quan Yao. “Makanya, sebelum bicara pikir dulu!” ujar
Quan Tao sambil berjongkok dengan santai untuk menghindari pukulan dari penjaga
tadi. Tetapi, tetap melanjutkan perbincangan yang mereka lakukan. Sementara
itu, penjaga kembar tadi hampir saja
terjatuh karena tidak berhasil memukul Quan Tao dan Quan Yao. “Maaf lah..”
sahut Quan Yao kemudian berdiri lagi.
“Kalian
berdua itu sedang apa? Memukul begitu saja tidak bisa!” ujar Quan Tao. “Payah
sekali kalian ini.” Tambah Quan Yao. Kemudian dua penjaga tadi mencoba untuk menghajar Quan Tao dan Quan Yao lagi.
Dan dengan santainya Quan Tao dan Quan Yao merunduk untuk menghindari para
penjaga tadi. “Ck..ck..ck..” decaj Quan Tao dan Quan Yao sambil menggelengkan
kepala. “Apa perlu kami ajari?” ujar Quan Yao. Dua penjaga itu justru saling
berpandangan. “BUG!! BUG!!” Quan Tao dan Qua n Yao menendang para penjaga tadi.
“Begini cara menghajar lawan yang
benar!” seru Quan Tao dan Quan Yao girang. Dan akhirnya, semua penjaga itu
berhasil dikalahkan.
Alexander
Chen keluar sambil bertepuk tangan beberapa kali. “Kalian semua memang hebat!”
ujarnya. “Alexander Chow!” seru Chen, Quan Tao, Quan Yao, dan Han. “Hahaha!
Rupanya kalian sudah mengenaliku!” ujar Alex terlihat santai. Kenalkan 5 anak
buahku yang ini. Kalian akan mati ditangan mereka!” jelas Alex. Kemudian
munculah 5 orang dengan badan besar. Diantaranya berkulit hitam. Dan dua orang
dari mereka adalah perempuan yang salah satunya adalah Jessy Chau.
“Jessy!” seru Chen, Quan Tao dan Quan Yao.
“Tak perlu kaget melihatku! Karena sekarang kalian semua akan mati!” sahut
Jessy sambil tersenyum licik. “Suadah kuduga dari dulu! Kau memang bukan orang
baik-baik!” tambah Han. “Hei, rupanya kau mesih mengingatku Han!” tambah Jessy.
“Tentu saja! Wajah jelekmu itu sulit dilupakan!” hina Han “Dasar anak kurang
ajar!” kesal Jessy. “Hei, kenal Jessy dari mana kau!?” bingung Quan Yao.
“Ayahku polisi dan aku sering bermain kekantornya waktu aku masih kecil.” Jelas
Han.
“Tak
perlu banya bicara lagi! Habisi mereka!” seru Alexander. “Fa, Lin, Tian,
mundurlah!” perintah Han pada teman-temannya. “Ya” Fa, Lin dan Tian hanya
menuruti peritah Han. “It’s time to play” bisik Han. “HYAA!!!!” seru Chen, Han,
Quan Tao dan Quan Yao. Kali ini, mereka berempat bertarung habis-habisan
melawan 5 orang anak buah Alex.
Setelah
bartarung habis-habisan, kini tersisa Jessy. “Serahkan padaku!” ujar Chen. Sementara Chen bertarung dengan Jessy, Lin,Fa
dan Tian mengikat para anak buah Alex yang sudah berhasil di kalahkan. Kemudian
Quan Tao, Quan Yao, dan Han mencari Alex yan mencoba untuk melarikan diri. Han
berhasil menemukan Alex yang mencoba untuk menembak Chen dengan pistol yang ia
pegang. Han tidak tinggal diam. Ia melihat ada sebuah pistol dilantai dan
kemudian mengambilnya. Tampa ragu, Han menembak pistol yang Alex pegang hingga
terpental cukup jauh.
Kemudian
Alex mencoba untuk melarikan diri, tetapi terlambat,. Quan Tao dan Quan Yao
sudah mengepungnya. “Mau kabur kemana kau bandar narkoba murahan!” ujar Quan
Tao ketika mengepung Alex. “Memangnya dia laku kalau dijual? Hahaha” ledek Quan
Yao. “Kau ini! Ayo tangkap dia!” sahut Quan Tao. Jessy pun berhasil dikalahkan
oleh Chen. Kemudian Quan Yao menghubungi kator polisi.Tak lama, polisi datang
dan meringkus para bandar narkoba termasuk bosnya Alexander Chow.
“Aku
penasaran dengan komandan kalian itu!” ujar Han pada Quan Tao dan Qua Yao.
“Mungkin
sebentar lagi komandan paling aneh itu datang.” Sahut Quan Yao.
Bebrapa
saat kemudian datanglah Maa Yong Chen sang komandan kepolisian.
“Ia
datang!” bisik Quan Tao.
“Dia
komandanmu?” kaget Han.
“Ya! Tepat sekali!” Jawab Quan Tao.
“Laki-laki
berbadan tinggi besar yang sedang berjalan ke arah kita itu?” ujar Han
memperjelas.
“Iya!
Dialah komandan kami.” Sahut Quan Yao.
“Dia
Ayahku!” ujar Han.
“Hah?
Kau tak salah? Mungkin dia hanya mirip dengan ayahmu.” Sahut Quan Tao tak
percaya
“Bodoh!
Aku pasti mengenali ayahku sendiri!” jengkel Han kemudian bersembunyi dibalik
Chen, Quan Tao, dan Quan Yao.
“Polisi
Quan, polisi Chen.” Panggil Maa pada anak buahnya.
“Siap
Pak!” sahut Quan Tao, Quan Yao, dan Chen memberi hormat.
“Kerja
bagus.” Ujar Maa bangga.
“Sepertinya
aku mengenal Kalian bertiga.” Tambah Maa saat melihat Lin, Fa, dan Tian.
”Kami
teman dari Han.” Sahut Lin.
“Han?
Apa dia ada disini sekarang?” tanya Maa.
Quan
Tao, Quan Yao, dan Chen menyingkir dan terlihatlah Han yang dari tadi
bersembunyi.
“Hai
ayah.” Sapa Han.
“Han!
Aku mencarimu kemana-mana!” ujar ayahnya pada Han lalu memeluk Han. “Dasar anak
nakal! Kemana saja kau 2 hari ini? Aku dan ibumu telah mencari mu dan ketiga
temanmu! Dan ternyata kau berada disini!” omel Maa pada anaknya.
“Maaf
Aku membantu mereka menangkap Alexander Chow yang sudah lama ayah incar.” Jelas
han girang.
“Apa?
Kau membantu mereka menangkap Bandar heroin kejam itu?kan aku yah. Aku hanya
mencoba mencari tasku yang waktu itu tertukar dengan tas milik kedua kakak ini.
Dan akhirnya aku ikut membantu mereka.” Jelas Han.
Chen,
Quan Tao, dan Quan Yao hanya tersenyum ketakutan.
“Apa
yang kau lakukan itu berbahaya Han! Seharusnya kau tak pernah melakukannya.”
ujar Maa.
“Maaf
yah, aku terpaksa tak pulang selama 2 hari, karena waktu itu Lin disandra olah
para penjahat itu, aku tak mau orang mengatakan aku ini orang yang tak
bertanggung jawab karena telah meninggalkan temanku sendiri dalam keadaan
bahaya.” jelas Han.
“Maaf
komandan, maksud Han memang baik. Bahkan menurutku dia pantas menjadi seprang
polisi muda.” Tambah Quan Yao.
“Benar
komandan, sebaiknya kau tak memarahinya.” Tambah Chen.
“Iya,
kalau dia tidak menyelamatkannku, mungkin aku sudah terbunuh.” Sela Lin.
“Baiklah,
tapi kuharap kau tak pernah melakukan hal ini lagi. Karena aku tak mau sesuatu
terjadi padamu seperti yang dialami kakak mu, Zhai.” Ujar ayahnya.
“Baik
yah.” Sahut Han Perlahan
“Memangnya
Han punya kakak yang Bernama Zhai?” bisik Lin.
“Iya,
tapi sudah sekarang sudah tiada.” Sahut
Chen.
“Oh,
maaf” tambah Lin.
“Chen,
ku minta kau kembali mengawasi anakku yang satu ini!” perintah Maa sambil
mengusap kepala Han.
“Sipa
Pak!” sahut Chen
“Ayah,
jangan lakukan ini di depan temanku.” Ujar Han melepaskan tangan ayahnya.
“Lagi?”
bingung Lin
“Memang
kau tak pernah diberi tahu Han, kalau waktu kecil ia sering bermain di kantor
polisi, dan ada seorang pria yang menjaganya, dan mungkin itu kak Chen.” Jelas
Fa panjang lebar.
“Paman
Chen!” seru Han.
“Kemari
kau anak nakal!” sahut Chen.
“Hei!
Berhenti menyabutku seperti tu!” sahut Han menyerang Chen.
“Rupanya
belum puas kau bermain dengan bahaya yang baru kau lalui.”
“itu
belum cukup untuk orang seperti ku! Hya!!” sahut Han. Dan akhirnya Han, Lin,
Fa, dan Tian mendapat gelar Polisi Cilik dari kepolisian Hong Kong.
“Hah?
Mimpi apa aku barusan?” bingung Han ketika ia terbangun.
“Tapi,
kerenjuga mimpiku barusan.” Tambahnya.
“Hoaahhm...
aku masih mengantuk.” Ujarnya sambil melihat jam di tangannya.
“Baru
jam 9 pagi.” Ujarnya tidur kembali.
“HAH?
JAM 9 PAGI? AKU BISA TERLAMBAT MENGIKUTI LOMBA KUNG FU DI GUANGDONG HARI INI!!!”
teriak Han ketika sadar bahwa ia hampir terlambat.
***THE END***
No comments:
Post a Comment